21 April 2009 at 22:07 · Filed under mencurahkan hati..
Kenapa ya… kok aku sekarang tampak bertransformasi menjadi seseorang yang serius?? Dan aku baru tersadar setelah orang-orang di kantorku bilang aku adalah orang serius..
Serius..?!
Setelah dipikir-dipikir… aku mulai mendapati sosokku yang lain, yang berbeda dengan sosokku dulu yang begitu banyak santay..
Trus apa yang salah dengan jadi orang serius??
Mmm.. ga ada yang salah.. bagus malah.. toh kan seriusnya juga ketika bekerja kan…
Yup, tapi yang salah adalah.. virus serius itu mulai menjangkiti perlahan-lahan pribadi aku, menjadikan aku sedikit demi sedikit menjadi perfeksionis!
Padahal aku tidak suka dengan istilah perfeksionis. Karena perfeksionis cenderung menciptakan keegoisan.. egois tidak mau berbagi susah.. egois tidak mau saling membantu.. egois dalam memutuskan.. egois untuk tidak mau mendengarkan..
Tapi sekarang aku melihat dalam diriku ini muncul bibit-bibit perfeksionis itu!
aku jadi tidak sabar jika aku sudah siap, yang lain belum siap…
bismillah…
aku jadi kesal jika rencana yang aku sudah buat, gagal..
aku jadi ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginanku…
aku jadi menerapkan standar diriku untuk orang lain…
dan aku jadi menganggap serius segala sesuatu…
rasanya itu sudah mulai berjalan perlahan-lahan beberapa tahun terakhir ini..
tapi aku baru menyadarinya beberapa hari yang lalu.
Aku jadi teringat seorang teman SMA ku pernah bilang jika aku selalu menyemangatinya dengan kata-kata: “Nikmatin aja fit..”
Aku ingin sosokku yang dulu..
Enjoy terhadap apapun…
..dan tidak banyak menggerutu..
Sekarang, aku coba untuk terus melihat ke depan..
Sambil tersenyum.. dan menikmati apapun yang terjadi..
Dan apapun yang kumiliki…
bismillah…
21 April 2009 at 22:02 · Filed under pelajaran hidup..
Sekarang gw sedang dalam tahap tingkat jenuh..
Dan akhirnya gw banyak mengeluh..banyak menggerutu..
Padahal menggerutu gak akan menyelesaikan masalah, malah bikin kita makin bete kan??
Barusan aku baca email dari pacarku, yang tak henti2nya selalu menyemangati aku lewat email2 hampir setiap harinya, isinya begini:
Sebuah kisah nyata…
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:
“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan”
Ibu itu kemudian menutup matanya.
“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?”
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”
“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”.
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.
“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya
“Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”.
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.
aku jadi teringatkan..
ya Allah selama ini begitu mudahnya aku mengeluh..
dan langsung menilai segala sesuatu dari kacamata ku dimana kepentinganku paling berbicara
begitu sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanku, aku langsung menilai negatif..
padahal seharusnya aku bersyukur….
Saya BERSYUKUR;
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar, karena itu artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst…
astaghfirullahhal ‘adzim….
maafkan aku Ya Allah… aku sering menutup mataku atas semua karunia-Mu…
hidupku adalah karunia-Mu..
dan segala sesuatu disekelilingku adalah karunia-Mu juga…..
21 Desember 2008 at 09:53 · Filed under mencurahkan hati.. and tagged: pacar, sarmil
Mmm… Ternyata, tidak berkomunikasi sama sekali selama beberapa hari rasanya aneh bener. Okey lah kalo jadi ga bisa ketemuan,, toh semenjak kerja juga jadi jarang ketemu. Tapi kalo ternyata jadi sama sekali ga bisa contact.. it’s so hard..
Putus…..ga pernah. Berantem lebih dari satu hari……rasanya belum pernah juga (sekalian nyombong ahh..kekekkkkk). Lima tahun setengah selalu kontakan tiap hari, sekarang dikasih ginian rasanya: ANEH dan GA ENAK. Tapi ya mau gimana lagi,,, masa saya harus teriak2in perusahannya gitu..
“sarmil..? masih ada di zaman sekarang?!”
kekekkkeekkk,,,
kan ga mungkin juga.
Ya udah lah dijalanin aja, toh emang harus terjadi. Sooner is better lah.. Meski di akhir desember yang banyak hari merah ini saya jadi bengong-bengong sendirian ajah…
Agak ini juga sih.. pas bengong2 di mess gitu ya, liat kanan – tampak neti sedang menilpun – , jalan dikit ke ruang tv – si riri juga lagi nelepon. Di kantor pun, sabtu pagi, liat depat – ehhh..alif pun nelepon juga.
Urggh!!!
Sebetulnya gapapa juga sih ya kalo harus sarmil.. tapi bo ya sita hp dua minggu nya itu loh..
Sms aja gak bisa, apalagi tilpun. Hux hux hux…
Sekarang baru lima hari aja, tapi dah… hux hux hux….
Yang kebiasaan segala diceritain: sedang bahagia diceritain.. sedang sedih diceritain.. sedang sakit diceritain.. sedang bingung diceritain.. sedang lapar juga dceritain.. sedang teriak habis ketemu kecoa juga diceritain (yang ini agak lebaay tampaknya, yakakakkk!!).. sekarang jadi ga bisa sama sekali.
Yaah… ambil hikmahnya aja deh…….. semoga ya bisa…
Pasti bisa ah! Ginian mah kagak ada apa2nya! (berbicara dengan sangat pedenya).
Yahhhaahhhhaa!!!
Hikmah… Jadi lebih mandiri misalnya. Kalau ada masalah langsung selesaikan sendiri. J
Mmm… bangga juga ya punya pacar ikut sarmil.
21 Desember 2008 at 08:28 · Filed under Tak Berkategori
Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!